Penghargaan bagi Pelestari Wayang Kancil

Penghargaan bagi Pelestari Wayang Kancil

Rabu, 16 Juni 2010 | 06:08 WIB YOGYAKARTA, KOMPAS – Dalang sekaligus pembuat wayang kancil, Ki Ledjar Subroto, mendapatkan penghargaan pelestari dan pengembang wayang kancil dari Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X. Video cerita wayang kancil akan disebarkan ke seluruh sekolah menengah di DIY sebagai media edukasi ekstrakurikuler untuk membangun kesadaran terhadap lingkungan. Penghargaan bagi Ki Ledjar diserahkan Sultan di Bangsal Kepatihan, Selasa (15/6), dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup bertema ”Keanekaragaman Hayati Masa Depan Bumi Kita”. Dalam acara itu Ki Ledjar menggelar wayang kancil bertajuk Kancil Sang Pamomong, Buaya Tak Tahu Balas Budi, Gerak Gempa, dan Singa Teler. Kisah kancil dinilai sesuai dengan filosofi hamemayu hayuning bawono (melestarikan lingkungan). Ki Ledjar dinilai mampu menginterpretasi cerita kancil secara kontekstual dan aktual dengan tantangan masa kini. Tokoh kancil diciptakan Kanjeng Sunan Giri (1476-1688) di Gresik sebagai media dakwah. Wayang kancil konsisten mengedepankan unsur moral dan ajaran budi pekerti yang dikembangkan untuk membangun sikap sadar lingkungan hidup. Selain penyerahan penghargaan, Sultan menyerahkan secara simbolis rekaman DVD wayang kancil bagi siswa SLTP-SLTA di DIY kepada Kepala Dinas Pendidikan DIY Suwarsih Madya. Tahun 1997, Ki Ledjar meraih penghargaan dari Pemerintah Provinsi DIY untuk cabang seni dan kerajinan. Selain itu, dia meraih penghargaan dari Wali Kota Yogyakarta (2008) sebagai tokoh terpilih bidang seni dan budaya Kota Yogyakarta. Ki Ledjar menyiapkan regenerasi wayang kancil dengan mewariskan keahliannya kepada cucunya, Ki Ananto Wicaksono. Dalam kisah Kancil Sang Pamomong, Ki Ledjar berkisah tentang kancil penjaga kerajaan hutan. Kancil memimpin dengan kebijakan yang prolingkungan sehingga tercipta kehidupan harmonis dalam menjaga keanekaragaman hayati. ”Kancil mencuri karena hutan lindung tempat hewan hidup dirusak manusia sehingga tak ada lagi yang bisa dimakan. Karena itu, manusia harus menjaga dan melestarikan hutan,” kata Ki Ledjar. (WKM)

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s